bali, honeymoon day 1.


“tempatnya masih sama persis kayak 3 taun lalu kita dateng, cuma bedanya, sekarang sepi aja soalnya cuma berdua.” rain berucap dengan nada mengawang akibat memorinya yang terputar ke liburan beberapa tahun lalu bersama dengan yang lain.

jave dan rain memang menyewa villa sama milik sepupu kalandra waktu itu. tak ada alasan pasti, hanya ingin saja. apa lagi mengingat bahwa memori-memori di tempat ini begitu menyenangkan, bahkan terlalu indah untuk dibuang secara cuma-cuma.

dengan lea dan jinan yang dulu masih berpacaran hingga sekarang sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing, jeva dan lukas yang waktu itu baru pertama berpacaran hingga hubungannya langgeng sampai detik ini. tak lupa pula kedua manusia itu melongok secara diam-diam ke balkon area belakang tempat jave menyematkan cincin kepada rain untuk melamar saat itu.

dengan kata lain, tempat ini menyimpan banyak kenangan meski singkat-singkat saja kunjungannya.

jave tersenyum, melempar tubuhnya asal ke atas sofa sambil menyelonjorkan kaki disana. ingin menyuruh rain untuk duduk disampingnya namun batal, sebab, gadisnya kini sudah berjalan memutari tempat lain guna mengumpulkan memori yang terpencar.

“dulu kita main truth or dare disini loh rain.” jave berujar kala kaki rain sudah menapak kembali di sekitarnya. gadis itu membawa dua gelas air putih dan meletakkannya di atas meja kaca.

“hahahaha iya inget, kamu dulu milih kak jasmine ketimbang kak clara.”

“itu doang yang kamu inget????”

“ya, yang lain enggak penting.”

“kalo pas itu dikasih pilihan kamu, aku pilih kamu.”

“ah sudahlah oldman, kamu diam saja.” rain terkekeh, ikut duduk di sebelah jave sambil menyenderkan kepala di punggung kursi.

jave tertawa sebentar, lalu keduanya lanjut diam. perjalanan di pesawat dan mobil yang cukup lama itu membuat tubuh bagian bawah mereka sedikit lelah.

“kita disini satu minggu, kamu mau ngapain aja kak?” rain menoleh, merentang jemarinya dengan maksud agar jave menautkannya disana.

“hm, kalo kamu memang mau apa?” lelaki itu balik bertanya, tangannya sudah cepat mengunci jemari rain karena siapa pula yang akan menolak jika ditawari tangan mulus itu terlebih dulu?

“aku apa ya.. aku pengen motoran aja sih boncengan gitu kan kita lama gak naik motor. tapi sayang disini kita gak ada motor hahahahaha.”

“ada, kenalanku banyak, tinggal telpon pasti dikasih.”

“emang bisa begitu?”

“bisa lah, kan udah dibilang, kalo buat kamu semua bisa.” jave berucap, tatapan matanya kembali jail ketika melihat rain yang hampir mengomel akibat mengaku geli jika digombali terlalu serius.

“gantian kamu. kamu mau apa kak?”

jave berpikir, hingga akhirnya meraih hp dan membuka notesnya. “gini aja, kita tulis yang kita mau jadi nanti bisa di centang kalo udah selesai. oke gak?”

“woooooow. boleh aneh-aneh?”

“kayak?”

“main skateboard di pinggir jalan terus main banana boat terus main diving2an terus..”

“emang udah jago nyelem kamu?”

“uihhhh orang ini meledek sekali..” rain menoleh dengan tatap nyolot, walau sedetik kemudian ia kembali normal dan berkata.. “ya gak bisa lah!!!!!”

jave tertawa kencang dengan tangan kanannya yang menganggur mulai menuliskan apa saja yang diinginkan gadisnya.

“mau itu juga, makan seafood, nanti kamu yang kupas kepitingnya aku yang kupas lobster. gimana gimana?”

“curaaaaaang.”

“hahahahaha enggaaaaak itu sama gampangnya tau.”

jave menyerah, mengangguk, kembali menulis.

“terus aku mau muterin discovery terus minum starbucks duduknya deket kaca kan disitu ada deket.....”

“oke, terus?”

“mau renang didepan itu tuh juga boleh engga nanti kamu temenin?”

“hahahahaha astaga bocah, bolehhh. terus apa?”

“terus apa ya, aku mau jalan yang banyak ijo2nya gitu loh kak disini apa namanya ya? yang kayak padang ijooooo luas gitu.. eh, apa sawah? bukan kok itu ijo-ijo seperti rumput..”

“aku tau tapi lupa namanya, but noted nanti dicari.” jave tergelak sambil menulis.

“terus sekarang aku udah minta banyak, gantian kamu yuk. kamu mau apaaaaa?” rain tersenyum lebar.

jave langsung menoleh, menatap mata rain dengan sesekali menaikkan sebelah alis. “aku mau, sleeping?”

“yeeeeee itu mah apa sih maksudnya kan sleep sleep itu su...”

”'sleeping', sambil 'exercise', maksudku.” jave mengutip kata sleeping dan exercise agar rain mengerti maksudnya.

gadis itu langsung melotot, ingin melepas cekalannya dalam genggaman jave namun langsung gagal, tentu saja, tenaganya tidak sebanding. gantinya rain hanya memejam dengan pipi memerah menahan malu. beberapa kepak sayap kupu-kupu mulai menari di perutnya tanpa terkendali. suasana sinting yang baru kali pertama ini terjadi sebab keduanya telah resmi menikah.

“kak, aku kira pikiranmu harus direfresh sesekali.” rain beranjak berlutut di kursi sambil tangannya meraup gemas kepala jave, dengan harap, ia bisa 'mencuci' sedikit isi pikiran lelaki itu agar tak lari kemana-mana.

“laptop kalo direfresh tuh makin bening loh mikirnya rain.”

“errrrrr, ya udah, di downgrade aja. gimana? ARHHHHHHH CAPEK AKU TUH BINGUNG NANGGEPIN KAMUNYA GIMANA NGERTI ENGGAAAAAA.”

“enggak?”

“dihhhhhh.” rain melebur ke bawah. memeluk tubuh jave dari samping dan perlahan kembali mendudukkan diri di kursi secara normal. kepalanya hilang beberapa saat di belakang leher jave akibat tak ingin digoda lagi.

“oh oh nempel-nempel.. udah kepengen nih? sekarang aja nih? pintu udah aku lock sih aman.”

“KAK JAVEEEEEEEE..” hilang sudah kewarasan rain. jave semakin semangat tertawa saja meski ia tak bergerak usil. karena, meski sudah menikah, menurutnya hubungan intim harus dengan kesepakatan berdua. jika rain masih tidak mau, ya tidak apa, ia akan menunggu. menikah tidak melulu soal hubungan sex dan sebangsanya. ia menikah karena cinta, bukan nafsu sesaat. bagi jave, selama rain sudah mau ada disisinya, itu sudah cukup.

“anu, maksudku itu apa ya.. kalo misal kamu mau sih aku enggak melarang, tapi, tapi itu, hrrrr, ajarin? maksudku, aku enggak ngerti begituan kan. kayak, apa sih... ARGHHHH SUDAH LAH KAK JAVE AKU MAU KELUAR AJA AKU MAU JALAN KE BEACHWALK AKU MAU MANDI TERUS MAKAN BURGER KING BYE KAMU MAU IKUT AKU ATAU DIAM DISINI AJA?” rain nyolot karena jantungnya terpental kesana kemari, ia melepas pelukannya.

jave spontan terpingkal lama sekali sebelum akhirnya mengangguk.

“mau ikut aku kan itu maksudnya?” rain bertanya lagi dengan mata tak melihat ke arah jave. sudah tentu karena malu.

“kalo itu jelas aku ikut lah? tapi maksudku ngangguk tadi itu aku mau ngajarin kamu. HAHAHAHAHAHA.”

sial. rain langsung berlari meninggalkan jave di ruang tengah dan masuk ke kamar dengan gesit. setidaknya, ia ingin kabur karena wajahnya sudah berubah menjadi pelangi sekarang.

jave tertawa kencang, sedetik kemudian ia ikut berlari dan masuk ke kamar karena merasa gemas dengan tingkah rain setengah mati.